US$/Rp @bahan BAKU BAT1K … 300815

PEKALONGAN – Para perajin batik Kota Pekalongan, Jawa Tengah, mengeluhkan kenaikan harga bahan baku batik hingga mencapai Rp1.000 per meter.

Ketua Paguyuban Batik Pasir Sari Sodikin mengatakan, saat ini harga bahan baku kain seperti kain katun, dobi dari China naik sekira Rp200 hingga Rp1.000 per meter. Adapun harga lilin dan gondorukem, kata dia, mengalami kenaikan sekira Rp500 hingga Rp1.000.

“Jika selama seminggu ini nilai dolar AS masih bertahan sebesar Rp14.000 maka dipastikan harga bahan baku akan kembali mengalami kenaikan,” katanya, Sabtu (29/8/2015).

Ia mengatakan meski terjadi kenaikan biaya produksi batik tetapi para perajin kesulitan menaikkan harga jual kain batik di pasaran karena kondisi pasar juga ikut lesu.

“Saat ini biaya produksi pembuatan batik mengalami kenaikan rata-rata lima hingga tujuh persen akibat kenaikan kurs dolar AS terhadap nilai mata uang rupiah,” kata dia.

Ia mengaku para perajin masih belum berani menaikkan harga jual batik sebab kondisi pasar masih sepi.

“Jika kami nekat menaikkan harga batik maka dipastikan banyak pembeli yang akan protes dan tentunya berimbas pada penjualan. Omzet kami kini turun sekitar 10-20 persen,” katanya.

(wdi)

Posted in informasi umum | Leave a comment

2012 in review … blog ini MELESTARIKAN BATIK, cius

Bp6LzoUCEAAytSN.jpg large

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

4,329 films were submitted to the 2012 Cannes Film Festival. This blog had 14,000 views in 2012. If each view were a film, this blog would power 3 Film Festivals

Click here to see the complete report.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

batik GENTONGan … 110613

MONDAY, 20 MAY, 2013 | 21:22 WIB

The Mystical Side of Madura’s Batik Gentongan

TEMPO.COJakarta– Malang batik designer, Billy Wong, never thought any further about the long and complicated process of making batik gentongan. Billy never realized that there was a mystical belief behind each batik gentongan pattern.

He revealed that the process of making the Madura batik gentongan differs from Javanese batik in general. Aside from taking up to six months to create, batik makers must also abstain from many things.

Billy stated that if batik makers do not abstain from certain things, they would experience karma if they violate tradition. “If a family member dies, then the process of making the batik inside the drum must stop. If not, they willhave bad luck,” said Billy Wong on Friday, May 17.

He explained that the name of this batik was derived from the process of creating the batik using a gentong (drum/container). The gentong must also be placed in a darkroom. The Batik Gentongan Madura is hand made using touches of natural colors and generally consists of flora and fauna patterns. The mixture of natural colors with these flora and fauna prints creates a strong sense of eastern culture art.  DIANANTA P. SUMEDI

Posted in gambar batik, informasi umum | Leave a comment

batik SANG DUTA … 110613

MONDAY, 27 MAY, 2013 | 08:33 WIB
The US Ambassador is a Batik Fan

TEMPO.CO, Jakarta – US Ambassador Scot Marciel and his wife, Mae, are not just being diplomatic when they tell people they love batik. Marciel admits to having a collection of batik shirts.

“Ten long-sleeved and six short-sleeved ones,” said Marciel, who first took up his post in Jakarta on August 2010.

Admittedly, it is not just the interesting motifs which makes him find batik attractive, but also the comfort they provide being basically a cotton shirt, just right for the hot and humid tropical climate.

Marciel likes batik so much; he has introduced a policy of wearing batik on Fridays at the US Embassy. Reportedly, the embassy staff holds a Best Batik contest.

The next addition to the Ambassador’s collection will be the batik serambit, identical sarongs especially made for couples, usually worn at Javanese weddings. (*)
contoh batik serambit:

Posted in informasi umum | Leave a comment

BAT1K mAGELANG dipamerin … 110613

Pekan Budaya Batik Magelang
SENIN, 10 JUNI 2013 | 17:37 WIB

TEMPO.CO, Magelang-Dunia perbatikan di Magelang, Jawa Tengah, semakin menggeliat. Promosi digencarkan melalui berbagai ajang. Salah satu promosi itu melalui Pekan Budaya Batik di Armada Town Square (Artos) Magelang, 7-16 Juni 2013 yang memamerkan aneka motif batik khas tentang legenda kampung.

Promotions Staff Artos, Diah Pangesti, mengatakan kegiatan itu, sebagai sarana mengembangkan pasar batik khas Magelang, dengan sasaran pengunjung mal. “Kami ingin menjadi bagian dalam pelestarian budaya bangsa. Batik khas Magelang belum banyak dikenal masyarakat, padahal memiliki nilai artistik tinggi,” kata Diah, Senin, 10 Juni 2013.

Pameran itu diikuti enam perajin batik dari kota dan kabupaten Magelang. Mayoritas, mereka menampilkan batik tulis bermotif legenda kampung yang menggunakan pewarna alami. Diantaranya, motif Bayeman, Ringin Anom, Kebon Polo, Kemiri Rejo hingga ikon Water Torm di Alun-alun Kota Magelang. Ada pula batik bermotif unsur alam, seperti pegunungan, daun, pohon bambu, kayu. Juga, batik khas Candi Borobudur, yang digunakan sebagai sarung ketika pengunjung masuk candi.

Pengelola stan Batik Saniyya Muntilan, Titik, mengaku senang dengan kegiatan itu. Selain untuk memasarkan batik khas Magelang, pekan budaya itu juga meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap batik. “Stan kami ramai. Banyak yang penasaran dengan batik khas Magelang,” katanya.

Titik juga mengatakan batik Saniyya banyak menggunakan pewarna alami, seperti pelepah pisang, serat nanas, sari daun mangga, daun jambu, serta kunyit. Menurut dia, masyarakat menyukai batik-batik dengan unsur alam. Selain lembut, ramah lingkungan dan aman untuk kulit. Dia menjual batik-batiknya antara Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta per meter.

Pekan budaya batik, juga dimeriahkan workshop membatik, live show music, serta pameran fotografi. Ada juga fashion show koleksi Crisantium, oleh Tatok Prihastomo dan Touch of Ramadhani, oleh Ramadhani A. Kadir, yang akan dibawakan Duta Wisata Magelang.

Batik khas Magelang, baru digagas sejak 2010. Karena tidak ada sejarah batik di kota ini, maka dipilihlah nama-nama kampung terbesar di 17 kelurahan, di Kota Magelang, untuk motifnya. Kampung-kampung itu, dipilih karena memiliki legenda atau riwayat unik.

Ada beberapa kampung yang dipilih seperti Gelangan, Bayeman, Mirikerep, Mantiasih, Kebonpolo, Watertoren, dan Patenjurang. Kampung Bayeman misalnya, bermotif daun bayam, atau Watertoren dengan motif gambar saluran air Belanda. Hingga saat ini, ada 40 motif batik Magelang.

OLIVIA LEWI PRAMESTI

SUNDAY, 12 MAY, 2013 | 18:53 WIB

Village Legends Printed on Magelang Batik

TEMPO.COMagelang – Not everyone knows Magelang produces batik. It has quite unique patterns as they picture village legends and tales on the fabric. Magelang batik pioneer, Kelik Subarjo said, being invented in 2010, the idea came up to bring out a unique signature. “Magelang does not have much history in terms of batik creation,” he said.

Together with his friends, Kelik began to create some batik patterns. Finally, 17 village names taken from 17 districts around Magelang were picked. “Those villages picked as patterns are those with legendary stories or unique tales,” Kelik said.

Some of the villages are Gelangan, Bayeman, Mirikerep, Mantiasih, Kebonpolo, Watertoren, and Patenjurang. Bayeman village introduces the pattern of spinach leaves and Watertoren shows water pipes during Dutch colonialism.

Forty batik patterns have been collected to date. This batik uses both printing and hand-drawing methods. It is produced by eight joint-venture businesses employing housewives, young people, and men. “The price is various. The printed one starts from Rp.120,000 and if you pick the one with hand-drawing patterns, it costs Rp.300,000,” he said.

Koko Sisminarko, Magelang batik pioneer who is hugely interested in the hand-drawing batik added, Magelang batik is still struggling to get into the market. “Our focus is to introduce the patterns first. It is not easy to do because Magelang batik is different,” Koko said, saying Magelang batik is recently available online as well as in Jakarta and Semarang markets.

OLIVIA LEWI PRAMESTI

Posted in informasi umum | Leave a comment

batik meWAH banyumasan : 061112

Kemewahan Batik Banyumasan
BATIK, dan BATIK BANYUMASAN, pola
Oleh: Liana Garcia
web – Rabu, 18 November 2009 | 21:15 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Tidak pernah berhenti mengangkat kain-kain tradisional sebagai bagian dari busana, Poppy Dharsono kembali membuat sensasi dengan menyulap batik Banyumasan menjadi busana elegan.

Selama 32 tahun berkiprah di dunia mode, Poppy Dharsono memang dikenal konsisten mengangkat kain-kain tradisional di Tanah Air. Tahun lalu, desainer anggota Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia ini mengangkat tenun ikat Troso.

Kali ini dalam perhelatan Jakarta Fashion Week 09/10 (JFW 09/10), Poppy tertarik menampilkan batik Banyumas yang dikenal dengan keunikan motif, teknik pengerjaan maupun warnanya. Batik Banyumasan dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan, penghargaan terhadap nilai demokrasi dan semangat kerakyatan.

http://mustaqimzone.files.wordpress.com/2010/04/banyumas.jpg

Nilai filosofis itulah yang kemudian tertuang dalam motif-motif batik yang khas seperti Sekarsurya, Sidoluhung, Jahe Puger, Cempaka Mulya, Madu Bronto dan Satria Busana. Dari segi warna, batik Banyumas cenderung lebih menyala dengan warna kemerahan, tidak seperti batik Jogja yang didominasi putih, atau Solo yang bernuansa keemasan.

https://i2.wp.com/3.bp.blogspot.com/-7hZSDcEi7TM/T81tO1Sbm6I/AAAAAAAABC8/DJoyeQFTSS8/s1600/motif04.jpg
Satu hal yang membedakan batik Banyumas dengan batik lainnya, kain batik Banyumas selalu dilukis pada kedua sisi kain, yang merupakan cerminan sifat masyarakatnya yang jujur dari luar maupun dalam hatinya dan bicara apa adanya.
“Kultur Banyumas sangat unik, salah satunya budaya membatik. Sarat dengan sejarah dan nilai filosofis. Lewat selembar kain batik, masyarakat Banyumas bisa memproklamirkan pandangan hidupnya. Ketika dituangkan dalam bentuk satu busana, corak batik itu seolah mewakili semangat yang terpancar dari motifnya,” jelas Poppy Dharsono kepada INILAH.COM usai menampilkan koleksi terbarunya di acara Fashion Tendance 2010 JFW 09/10, Pacific Place, Jakarta.
Kali ini dengan Batik Banyumasan Poppy menampilkan perpaduan unsur maskulin dan feminin dengan mengetengahkan ragam siluet tegas, seperti model jas, jaket, blazer yang dipadukan dengan dress dan blouse dari material sifon yang lembut, anggun, sekaligus feminin.
“Saya selalu menggabungkan sisi maskulin dan feminin, karena itulah gaya rancangan Saya. Penggabungan material halus dan keras, pola dekonstruktif, serta perpaduan jas, celana dan dress akan banyak terlihat dalam koleksi terbaru yang saya beri tema Recapturing Banyumas ini,” tutur desainer yang juga menjabat sebagai anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) Jawa Tengah ini.
Dari 12 set busana yang tampil malam itu, sangat terlihat gaya Poppy yang mencerminkan sosok wanita modern, tangguh dan aktif, namun tetap memiliki sisi kelembutan. Selain jas, Poppy juga menampilkan beskap dan vest yang bersanding apik dengan celana dan rok berdraperi.
Dan perhelatan JFW 09/10 pun menjadi saki, jika Poppy Dharsono memang tidak pernah meninggalkan kain Indonesia sebagai bagian dari busana Indonesia. [mor]
mau liat contoh2 lain pola batik banyumasan:
kereta kencana, pisan bali, duda brengos

Posted in gambar batik | Leave a comment

batik bukan rokok … 020912

Keindahan Batik Tembakau
Sabtu, 1 September 2012 | 22:29 WIB
KOMPAS/REGINA RUKMORINI Iman Nugroho

 

 

Oleh Regina Rukmorini

Boleh membenci rokok, tetapi jangan pernah sekali pun membenci tembakau. ”Kampanye” untuk lebih mencintai tembakau tersebut dituangkan dengan indah oleh Iman Nugroho (54) lewat aneka motif batik yang diproduksi unit usahanya, CV Pesona Tembakau.

CV Pesona Tembakau didirikan di rumah pribadi Iman di Dusun Tegaltemu, Kelurahan Manding, Kecamatan/Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Batik yang diproduksi Iman diberi label Batik Mbako. Mbako, dalam bahasa Jawa, adalah ungkapan masyarakat untuk mempersingkat kata tembakau.

Sesuai dengan labelnya, semua motif batik yang diguratkan di atas kain melukiskan keindahan tembakau dan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas tembakau. Maka, ada motif yang diberi nama Ron Mbako (daun tembakau) dan Rigen Mbako. Rigen adalah nama alat penjemur tembakau yang biasa dipakai di desa-desa.

Saat ini ada lebih dari 30 motif batik yang telah dibuat dan lima motif di antaranya telah dipatenkan. Selain Ron Mbako dan Rigen Mbako, tiga motif lain yang telah dipatenkan adalah Mbako Sakbrayat, Ron Abstrak, dan Sumbing Sindoro. Mbako Sakbrayat melukiskan rajangan daun tembakau petani, Ron Abstrak melukiskan daun tembakau secara abstrak, dan Sumbing Sindoro adalah kawasan pegunungan yang menjadi sentra pertanian tembakau.

Iman mengatakan, CV Pesona Tembakau dia dirikan pada akhir tahun 2009. Ketika itu, di beberapa tempat di Indonesia marak demo antinarkoba, rokok, dan tembakau. Banyak petani tembakau, termasuk tetangga sekitar rumah Iman, resah karena merasa aktivitas bertani tembakau mulai terancam.

”Mereka semua khawatir pemerintah akan melarang petani untuk bertani tembakau. Padahal di satu sisi, mereka juga tidak bisa beralih profesi karena tidak memiliki keterampilan lain,” ujarnya. Iman merasakan kepedulian yang mendalam terhadap petani tembakau karena di depan rumahnya terbentang luas areal tanaman tembakau, yang notabene digarap oleh tetangga-tetangganya sendiri.

Berangkat dari kondisi tersebut, Iman berdiskusi dengan tetangga-tetangga terdekat untuk mencari solusi yang tepat. Iman, warga asli Yogyakarta yang lekat dengan tradisi memakai dan membuat batik, akhirnya mencetuskan ide membuat batik bermotif tembakau, yang menjadi ikon kebanggaan Temanggung.

Ide ini direspons positif warga sekitar. Pada tahun 2009, Iman langsung bergerak cepat dengan mengirimkan lima orang, warga sekitar rumah, untuk belajar tentang teknik membatik ke sejumlah perajin di Solo dan Pekalongan selama sekitar seminggu.

Kelima orang inilah yang menjadi penggerak awal usaha batik CV Pesona Tembakau. Mereka merintis usaha membuat desain dan membatik, baik dengan teknik pewarna kimia atau cap maupun dengan pewarna alami.

Pewarna alami yang dimaksud berasal dari ekstrak daun tembakau yang dicampur dengan ekstrak aneka tumbuhan lain. Ide membuat ekstrak pewarna dari daun tembakau ini muncul setelah melihat begitu banyak daun tembakau yang dibuang karena busuk dan tidak laku dijual.

Akan tetapi, pembuatan warna yang diinginkan dari bahan-bahan alami juga dirasakan tidak mudah. ”Kami membuat beraneka macam warna dengan teknik asal mencoba saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Bahan-bahan alami yang dipakai dan dicampurkan dengan ekstrak tembakau antara lain kulit mahoni, secang, kayu tingi, dan daun teh.

Tanpa campuran bahan-bahan lain, pemakaian daun tembakau sudah memunculkan warna tersendiri. Ekstrak yang dibuat dari daun-daun yang sudah tua dan busuk, misalnya, memunculkan warna coklat muda dan ekstrak yang dibuat dari daun basah memunculkan warna hijau.

Menampakkan warna dari ekstrak daun tembakau ke kain batik juga tidak gampang.

”Dari ekstrak daun tembakau tua, misalnya, saya baru bisa mendapatkan warna coklat setelah 19 kali mencelupkan kain. Itu pun warna coklat yang dihasilkan benar-benar soft,” ujarnya menjelaskan.

Dari proses coba-coba tersebut, Iman mengatakan, semua tenaga kerja CV Pesona Tembakau baru terbilang cakap membuat batik dari pewarna alami pada pertengahan tahun 2011.

 

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Erlangga Djumena
Posted in gambar batik | Leave a comment