motif BATIK Jawa Barat

batik kontemporer sukabumi, jawa barat
Ciri Khas Lokal di Kain Batik Kontemporer
Selasa, 24 Agustus 2010 | 22:49 WIB
A A A
Motif Batik Sukabumi
Tribun Jabar/Ricky Reynald Yulman
Motif Batik Sukabumi –

PENETAPAN batik sebagai world heritage oleh United Nation Education Scientifis and Cultural Organization (Unesco), 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi, benar-benar terasa dampaknya bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Kalangan eksekutif pria dan wanita yang tiga empat tahun lalu merasa lebih percaya diri mengenakan stelan jas maupun blazer, kini tidak canggung mengenakan batik berbagai motif. Di berbagai pusat keramaian, terutama setiap hari Jumat, kini begitu mudah menemukan orang mengenakan pakaian batik.

Setelah hampir setahun terjadi perkembangan positif itu, kalangan perajin batik tentu tidak tinggal diam. Di berbagai daerah, termasuk di kota kabupaten di Jawa Barat, para perajin batik terus meningkatkan kualitas sekaligus mengembangkan aneka motif baru.

Sebagian perajin lain tetap melestarikan motif-motif batik klasik, seperti motif batik Cirebonan (Cirebon), Dermayon (Indramayu), Garutan (Garut), Tasikan (Tasikmalaya), dan Ciamisan (Ciamis).

Konon motif-motif batik klasik khas dari beberapa daerah di Jawa Barat tersebut, sudah dikenal dunia sejak tahun 1912 lewat buku yang ditulis warga negara Belanda, Jasper dan Pirngadie.

Proses kreatif perajin batik tentu tidak berhenti pada titik tersebut. Kalangan pelestari batik di kota maupun kabupaten yang tidak terdapat motif batik klasik, juga terpacu buat menciptakan motif batik khas daerah masing-masing.

Beruntung bagi mereka yang datang ke arena Festival Batik dan Bordir Jawa Barat 2010 di Graha Manggala Siliwangi, pertengahan Agustus. Sebab di ajang ini bisa kita lihat bermacam motif batik kontemporer di luar motif batik klasik di Jawa Barat.
Maestro bordir dan batik Hery Suhersono, menampilkan lima motif batik khas Majalengka. Motif batik Majalengka yang dibuat Hery Suhersono terinspirasi dari flora, fauna, serta cerita rakyat Majalengka.

Di antara motif batik khas Majalengka yang dibuat Hery Suhersono, lima sudah dipatenkan. Masing- masing motif Simbar Kencana, Nyi Rambut Kasih, Kota Angin, Gedong Gincu, dan Lauk Ngibing.

Lembur Batik Cimahi yang dimiliki Ny Hijriyah Kurniyawati STeks dan suaminya, Triswanto STeks, menampilkan ragam motif batik Cimahi yang telah dikembangkan. Seperti motif Cireundeu, Ciawitali, Curug Cimahi, Pusdik, dan Kujang.

Masih ada lagi batik Sukabumi yang dikembangkan dr Ritanenny ES Mirah. Lima motif dasar batik Sukabumi terinspirasi dari keragaman tumbuhan serta rempah-rempah. Motif Paku Jajar, Pohon Pisang, Daun Teh, Bunga Lily, dan Pala. (rry)

Wisata Batik, Rasanya Sungguh Berbeda
› TJ Online – Minggu, 5 Juli 2009 | 09:53 WIB

MENYAKSIKAN langsung proses pembuatan batik sekaligus mencoba membuat batik sendiri, ternyata tak kalah menyenangkan dibanding agenda liburan keluarga lain. Selain menambah wawasan, aktivitas ini bisa menumbuhkan kecintaan terhadap kekayaan budaya warisan para leluhur.

TAWARAN itu akan diperoleh bila kita berkunjung ke Rumah Batik Komar yang didirikan Komarudin Kudiya tahun 1998. Wisata batik sendiri baru dikenalkan kepada masyarakat sejak awal tahun 2009, bersamaan dengan berdirinya Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) yang saat ini ketua umumnya dijabat Ny Sendy Ramania Yusuf.

“Pengunjung yang datang ke sini tidak cuma kita jelaskan bagaimana proses membatik dan alat-alat yang dipakai. Merekapun bisa bertanya dan berinteraksi langsung dalam setiap tahapan membatik,” jelas Ade Rustandi, Supervisor Rumah Batik Komar, Kamis (2/7) pagi.

Hingga kini Rumah Batik Komar yang dapat diakses melalui Jalan Cigadung Raya Timur, sudah didatangi berbagai kalangan. Para pelajar playgroup hingga mahasiswa, rombongan karyawan dari instansi pemerintah maupun swasta, kolektor batik, hingga para peneliti batik dari berbagai daerah di Indonesia.

Begitu masuk gerbang Rumah Batik Komar, pengunjung bisa melihat kesibukan para pekerja batik yang melakukan aktivitas sehari-hari di sekitar bangunan joglo artistik. Ada sudut tempat para pekerja membuat motif dekat tempat penyimpanan cap batik dari tembaga.

“Setiap hari kita buat motif berbeda. Sampai sekarang sudah ada sekitar 3.000 lebih koleksi cetakan batik dengan ukuran mulai 3cm x 3cm hingga 18cm x 18 cm. Motifnya ada yang klasik, kontemporer, maupun fraktal yang lebih dulu diproses secara komputerisasi,” papar Ade Rustandi.

Uniknya ada beberapa motif kontemporer yang sama sekali berbeda dengan motif batik kebanyakan. Ada motif becak, sapi, tokoh wayang kulit, logo Harley Davidson, dan beberapa motif lain yang dipesan secara khusus. Pengunjung dari Papua bahkan pernah memesan cetakan batik dengan motif mirip ukiran patung Suku Asmat.

Kreasi terbaru yang sedang digarap tim Rumah Batik Komar, yaitu motif cerita legenda rakyat. Sekilas motif ini mirip wayang beber atau lukisan gaya Bali. Tapi cerita yang diangkat berasal dari seluruh Nusantara. Di antaranya Sangkuriang, Asal Orang Banten, Dewi Chandra Kirana.

Di sebelah barat bangunan ada tempat para pekerja batik menyiapkan bahan tekstil, membuat batik tulis, dan deretan pekerja yang membuat batik cap di atas meja khusus, serta mewarnai batik dengan teknik colet.

Setelah proses ini pengunjung diajak ke tempat pencelupan kain batik. Kemudian melihat gerai yang memajang kain batik yang sudah jadi. Selain membawa pulang kain batik kreasi sendiri, pengunjung yang berminat bisa membeli kain batik maupun produk fesyen jadi. (ricky reynald yulman)

Sebaiknya Survei Dulu
SEPERTI halnya Komarudin Kudiya, para karyawan di Rumah Batik Komar terdiri dari orang muda yang kebanyakan menekuni batik secara profesional. Di antara mereka ada yang sengaja diutus beberapa daerah di Jawa Barat buat menjalani pelatihan.

Para peneliti batik Jawa Barat pun takkan kesulitan menemukan motif-motif khas. Sebab di tempat ini terdapat koleksi batik Cirebon, Indramayu, Kuningan, Garut, Tasikmalaya, Cimahi, Bandung, dan motif dari daerah lain.

“Namun kebanyakan wisatawan yang datang ke sini justru lebih tertarik pada proses pembuatan batik. Di sini kami ajak pengunjung mengenal dan membuat batik cap, batik tulis, maupun kombinasi keduanya,” ungkap Ade Rustandi, Supervisor Rumah Batik Komar.

Wisata batik ini bisa dinikmati di luar hari Minggu dan hari libur nasional. Buat kenyamanan dan keteraturan, Ade Rustandi mengingatkan ada baiknya calon pengunjung lebih dulu melakukan survei atau mengonfirmasi kedatangan sebelum berkunjung ke tempat ini. (ricky reynald yulman)

Rumah Batik Komar
Komplek Cibeunying Permai V No. 25
Cigadung, Kota Bandung
(022) 2500822

About bumi2009fans

di dunia internet dan blog, gw pake beberapa nama seh: jo, ekonomitakserius, bumi2009fans, atawa (simply) gw :)
This entry was posted in gambar batik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s