BAT1K mAGELANG dipamerin … 110613

Pekan Budaya Batik Magelang
SENIN, 10 JUNI 2013 | 17:37 WIB

TEMPO.CO, Magelang-Dunia perbatikan di Magelang, Jawa Tengah, semakin menggeliat. Promosi digencarkan melalui berbagai ajang. Salah satu promosi itu melalui Pekan Budaya Batik di Armada Town Square (Artos) Magelang, 7-16 Juni 2013 yang memamerkan aneka motif batik khas tentang legenda kampung.

Promotions Staff Artos, Diah Pangesti, mengatakan kegiatan itu, sebagai sarana mengembangkan pasar batik khas Magelang, dengan sasaran pengunjung mal. “Kami ingin menjadi bagian dalam pelestarian budaya bangsa. Batik khas Magelang belum banyak dikenal masyarakat, padahal memiliki nilai artistik tinggi,” kata Diah, Senin, 10 Juni 2013.

Pameran itu diikuti enam perajin batik dari kota dan kabupaten Magelang. Mayoritas, mereka menampilkan batik tulis bermotif legenda kampung yang menggunakan pewarna alami. Diantaranya, motif Bayeman, Ringin Anom, Kebon Polo, Kemiri Rejo hingga ikon Water Torm di Alun-alun Kota Magelang. Ada pula batik bermotif unsur alam, seperti pegunungan, daun, pohon bambu, kayu. Juga, batik khas Candi Borobudur, yang digunakan sebagai sarung ketika pengunjung masuk candi.

Pengelola stan Batik Saniyya Muntilan, Titik, mengaku senang dengan kegiatan itu. Selain untuk memasarkan batik khas Magelang, pekan budaya itu juga meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap batik. “Stan kami ramai. Banyak yang penasaran dengan batik khas Magelang,” katanya.

Titik juga mengatakan batik Saniyya banyak menggunakan pewarna alami, seperti pelepah pisang, serat nanas, sari daun mangga, daun jambu, serta kunyit. Menurut dia, masyarakat menyukai batik-batik dengan unsur alam. Selain lembut, ramah lingkungan dan aman untuk kulit. Dia menjual batik-batiknya antara Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta per meter.

Pekan budaya batik, juga dimeriahkan workshop membatik, live show music, serta pameran fotografi. Ada juga fashion show koleksi Crisantium, oleh Tatok Prihastomo dan Touch of Ramadhani, oleh Ramadhani A. Kadir, yang akan dibawakan Duta Wisata Magelang.

Batik khas Magelang, baru digagas sejak 2010. Karena tidak ada sejarah batik di kota ini, maka dipilihlah nama-nama kampung terbesar di 17 kelurahan, di Kota Magelang, untuk motifnya. Kampung-kampung itu, dipilih karena memiliki legenda atau riwayat unik.

Ada beberapa kampung yang dipilih seperti Gelangan, Bayeman, Mirikerep, Mantiasih, Kebonpolo, Watertoren, dan Patenjurang. Kampung Bayeman misalnya, bermotif daun bayam, atau Watertoren dengan motif gambar saluran air Belanda. Hingga saat ini, ada 40 motif batik Magelang.

OLIVIA LEWI PRAMESTI

SUNDAY, 12 MAY, 2013 | 18:53 WIB

Village Legends Printed on Magelang Batik

TEMPO.CO,¬†Magelang¬†– Not everyone knows Magelang produces batik. It has quite unique patterns as they picture village legends and tales on the fabric. Magelang batik pioneer, Kelik Subarjo said, being invented in 2010, the idea came up to bring out a unique signature. “Magelang does not have much history in terms of batik creation,” he said.

Together with his friends, Kelik began to create some batik patterns. Finally, 17 village names taken from 17 districts around Magelang were picked. “Those villages picked as patterns are those with legendary stories or unique tales,” Kelik said.

Some of the villages are Gelangan, Bayeman, Mirikerep, Mantiasih, Kebonpolo, Watertoren, and Patenjurang. Bayeman village introduces the pattern of spinach leaves and Watertoren shows water pipes during Dutch colonialism.

Forty batik patterns have been collected to date. This batik uses both printing and hand-drawing methods. It is produced by eight joint-venture businesses employing housewives, young people, and men. “The price is various. The printed one starts from Rp.120,000 and if you pick the one with hand-drawing patterns, it costs Rp.300,000,” he said.

Koko Sisminarko, Magelang batik pioneer who is hugely interested in the hand-drawing batik added, Magelang batik is still struggling to get into the market. “Our focus is to introduce the patterns first. It is not easy to do because Magelang batik is different,” Koko said, saying Magelang batik is recently available online as well as in Jakarta and Semarang markets.

OLIVIA LEWI PRAMESTI

About bumi2009fans

di dunia internet dan blog, gw pake beberapa nama seh: jo, ekonomitakserius, bumi2009fans, atawa (simply) gw :)
This entry was posted in informasi umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s